Allah

asma ul husna

sahabat teman dan kwan

Welcume

Showing posts with label tokoh. Show all posts
Showing posts with label tokoh. Show all posts

Friday, February 26, 2010

Dakwah Rasulullah


Imam Ahmad telah memberitakan dari putera Sa'ad, sedang ayahnya, Sa'ad رضي الله عنه sendiri yang menunjukkan jalan ke Rakubah (perjalanan di antara Makkah dengan Madinah). Berkata putera Sa'ad, bahwa ayahku telah menceritakan kepadaku, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersama-sama dengan Abu Bakar رضي الله عنه telah singgah di kampungku. Sebenarnya Abu Bakar رضي الله عنه ingin melihat puterinya yang kecil sedang disusukan di kampung kami dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم pula inginkan jalan pendek ke Madinah. Berkata Sa'ad رضي الله عنه kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم : "jalan melalui Rakubah ini ada dua orang perompak dari suku Aslam, dikenal orang dengan panggilan Dua yang terhina!, jika engkau ingin melalui jalan ini, kami akan menunjukkannya". Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab: "Tidak mengapa, tunjukkanlah jalannya kepada kami!". Berkata Sa'ad رضي الله عنه seterusnya: "Kami pun berjalan melalui Rakubah itu, dan apabila kami dilihat oleh dua orang perompak itu, salah seorang mereka berkata kepada temannya: "Ini orang dari Yaman, barangkali!". Apabila kita bertemu dua orang perompak itu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun menyeru mereka supaya masuk Islam, dijelaskannyalah kepada keduanya tentang agama yang diajarkannya. Akhirnya mereka berdua setuju dan memeluk Islam. "Siapa nama kamu berdua?" tanya Rasuluilah صلى الله عليه وسلم "Nama kami?". Mereka tersenyum."orang panggil kami dua orang yang terhina! Barangkali kerana perbuatan kami yang jahat". "Tidak", jawab Rasuluilah صلى الله عليه وسلم . "Tapi sekarang kamu berdua dipanggil sebagai dua orang yang dimuliakan, kerana telah dimuliakan oleh Islam. Kami sekarang hendak menuju Madinah. Nanti temui kami di Madinah!" Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpesan kepada mereka berdua.
(Musnad Ahmad 4:74; Majma'uz-Zawa'id 6:58)

Pohon Menjadi Saksi Pengislaman seorang Arab Badui
Abu Abdullah An-Naisaburi (Hakim) telah memberitakan pula dari Ibnu Umar رضي الله عنه katanya: Semasa kami bersama dengan Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kami ditemui oleh seorang Arab badui. Apabila kami berhampiran dengan badui itu, berkata Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepadanya: "Hendak ke mana, wahai teman?!". "Hendak kembali ke kampungku",jawab badui itu. "Mahukah engkau jika aku tunjukkanmu kepada yang baik?". "Apa itu?", tanya si badui. "Engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah saja, yang Esa, tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad itu adalah hambanya dan UtusanNya",jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Siapa yang menjadi saksi atas apa yang engkau katakan itu?", tanya badui itu. "Engkau mahukan saksi? Engkau tak percaya kepadaku?!". "Ya, kerana aku tak kenal padamu!", jawab badui itu. "Baiklah", jawab Rasulullah صلى الله عليه وسلم lagi. "Cukupkah jika pohon itu menjadi saksi?!", sambil beliau menunjuk kepada sebatang pohon yang berdekatan dengan karni. "Pohon menjadi saksi?", mata badui itu terbelalak, dia tertawa. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun memanggil pohon yang tumbuh di lereng lembah bukit itu supaya datang. Lalu pohon itu pun datang menyeret dirinya satu-satu hingga berdiri di hadapan badui itu. Dan beliau meminta kepadanya supaya menyaksikan bahwa apa yang dikatakan beliau itu adalah benar dan betul. Pohon itu lalu bersaksi dengan jelas, kemudian dia kembali semula ke tempatnya di lereng bukit itu. Orang badui itu terperanjat, dan tidak terkata-kata lagi. Kami juga merasa heran, namun begitu kami tahu yang berlaku itu adalah tanda mukjizat Rasulullah صلى الله عليه وسلم . "Kalau begitu, aku percaya kepadamu!", jawab badui itu. Dia pun kembali ke kampungnya, sambil berkata, "Nanti, jika kaumku mengikutku, akan aku bawa mereka semua kepadamu". "Kalau tidak?". "Kalau tidak, aku sajalah yang akan datang kepadamu, dan duduk denganmu!"
(Al-Bidayah Wan-Nihayah 6:125; Majma'uz-Zawa'id 8:292)

Islamnya Buraidah bin Hasib ra.
Dan dari riwayat Ashim Al-Aslami yang dikeluarkan oleh Ibnu Sa'ad رضي الله عنه katanya: Apabila Rasulullah صلى الله عليه وسلم berhijrah ke Madinah, beliau singgah di sebuah kampung bernama Chamim. Beliau bertemu dengan Buraidah bin Hashib lalu ia diajak Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk memeluk Islam. Buraidah memeluk Islam bersama-sama dengan penduduk kampungnya, dan jumlah mereka sangat ramai, semuanya datang dari kurang lebih 80 rumah. Beliau bermalam di kampung itu, dan bersembahyang Isya' sedang penghuni kampung itu mengikutnya di belakang.
(Tabaqat Ibnu Sa'ad 4:242)

http://kisahshahabat.blogspot.com

Wednesday, January 13, 2010

Salahuddin al Ayubi



menceritakan kepada kita bagaimana semangat para pejuang mempertahankan Islam.. Semangat jihad yang tinggi sehingga dapat mematahkan semangat musuh Islam..
mempamerkan sifat zuhud, taqwa seorang pemerintah dalam memegang amanah yang dipikulnya.. Selain itu, sifat yang mementingkan kebajikan para rakyat malahan musuh yang tidak melawan..

betapa indahya Islam..

very nice book... baru habis baca.. terima kasih pada yg telah memberikan buku ini pada saya.. akan ku simpan untuk dibaca lagi...

next book.. abu ubaidah.. sepe nk bg hadiah buku ni pula.. hee

my heart

Thursday, May 14, 2009

special to TOK GURU


Assalamualaikum...
gambar ini dari kakak ana yang terserempak dengan tok guru
semasa keluar lunch di bangi minggu lepas..
tok guru baru keluar dari restourant tersebut..
abg ipar salam ngan tok guru..
....
kakak terus mms gambar ni kat ana... beliau tahu
yang ana peminat setia tok guru...
ana minat pada keperibadian beliau..
....
tengok tok guru ingat kat ayahanda...:-)
-my heart- 12.40 pm khamis

Wednesday, May 6, 2009

Sultan Muhammad Al Fateh



assalamualaikum...
sungguh kagum ana dengan kezuhudan sultan muhammad al fateh..

Sultan Muhammad Al Fateh (محمد الفاتح) atau yang disebut juga Mehmed II The Conqueror dilahirkan pada tanggal 29 Maret 1432. Saat kelahirannya pun sudah terdapat isyarat bahwa dia nantinya akan menjadi orang besar yang membuat sejarah besar. Ketika berita kelahirannya disampaikan, ayahnya, Sultan Murad II sedang membaca Al Quran tepat pada Surat Al Fath ayat 1:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan padamu kemenangan yang nyata.”


Kelahirannya ada pertanda

Menjelang kelahirannya, Sultan Murad sebenarnya sedang mempersiapkan penyerbuan ke Konstantinopel (Constantinople), ibu kota Kekaisaran Romawi Timur atau Byzantium. Setelah anaknya Muhammad lahir, datanglah seorang ulama besar Islam ke istana Sultan dan beliau mengatakan bahwa bayi itulah yang nantinya akan menaklukkan Konstantinopel seperti sabda Rasulullah SAW:

“Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentera, dan rakyatnya sebaik-baik rakyat.”

Ulama itu bernama Syeikh Syamsuddin Al Wali dari Khurasan (sekarang Uzbekistan). Beliau adalah seorang syeikh tarekat Naqsyabandiyah. Sultan Murad sangat yakin dengan ilham Syeikh Syamsuddin Al Wali sehingga baginda menyerahkan putera mahkota yang masih kecil kepada Syeikh Syamsuddin untuk dididik.


Didikan tarekat sufi dan kecakapan perang

Syeikh Syamsuddin mendidik muridnya ini dengan disiplin tarikat yang cukup keras. Penuh dengan latihan mengekang hawa nafsu dan hidup susah sehingga hasilnya Pangeran Muhammad menjadi seseorang yang berjiwa kuat dan sangat tahan dalam menghadapi ujian. Beliau dididik memiliki cita-cita besar yaitu menepati janji Tuhan melalui Rasulullah SAW: menaklukkan Konstantinopel. Untuk ilmu perang, ayahnya mendatangkan panglima-panglima yang paling berpengalaman untuk mendidik beliau. Beliau sendiri adalah seorang cendekiawan yang gemar mengumpulkan ilmuwan-ilmuwan di istana untuk berdiskusi.

Pada usia 19 tahun beliau naik tahta menggantikan ayahnya. Mulailah persiapan penaklukan dilakukannya. Beliau mendidik tentara dan rakyatnya agar menjadi orang-orang yang ertaqwa. Seluruh tentara dan rakyatnya dididik agar sanggup bangun malam dan merintih munajat pada Tuhan. Sebaliknya di siang hari mereka adalah singa-singa yang berjuang di jalan Allah. Beliau juga mengadakan operasi intelijen untuk membebaskan seorang ahli pembuat meriam dari penjara Romawi. Bersama para insinyurnya beliau membangun benteng, kapal-kapal perang dan meriam-meriam yang canggih untuk ukuran zaman itu. Bahkan dalam membangun benteng Rumeli Hasari di Selat Bosphorus beliau turun tangan ikut mengangkat batu dan pasirnya.

Takluknya Konstantinopel

Setelah persiapan matang, dimulailah penyerbuan ke Konstatinopel. Perang yang hebat berkecamuk lebih satu bulan, belum juga tampak tanda-tanda kemenangan. Bahkan pasukan Islam mengalami kesukaran mendekati benteng Romawi di tepi Selat Bosphorus tersebut karena di taut pasukan Romawi memasang rantairantai berukuran besar yang sangat panjang hingga menghalangi kapal yang akan mendekat. Dalam ketidakpastian itu Sultan Muhammad Al Fateh bertanya pada syeikhnya yang mulia, “Wahai Guruku, kapankah saat yang dijanjikan itu tiba?” Syeikh Syamsuddin Al Wali menjawab, “Pada hari ke 53, hari Selasa pukul 11 pagi.” Ini adalah ilham berbentuk berita ghaib yang diterima oleh Syeikh Syamsuddin Al Wali. Sultan Muhammad sangat yakin pada ilham gurunya. Beliau makin bersungguh-sungguh meningkatkan ketaqwaan pada Allah dan mengajak tentaranya melaksanakan hal yang serupa sebab hanya orang bertaqwa yang mendapat bantuan Tuhan.

Pada suatu malam di butan Mei 1453 terjadilah peristiwa yang luar biasa. Para insinyur Sultan telah menemukan inovasi teknologi luar biasa yang bisa disebut terobosan besar di zaman itu. Mereka berusaha membuat agar kapal-kapal perang Islam dapat berjalan di darat. Dengan memutari selat, pada tengah malam tibalah kapat-kapal pasukan Sultan Muhammad At Fateh ke bagian belakang benteng Konstantinopel. Kota Konstantinopel sebenarnya adalah kota yang sangat strategis karena ditindungi oleh benteng alami, yaitu perbukitan. Kapal-kapal tentara Islam yang berjumlah 70 kapat mendarat di Semenanjung Pera di pinggir perbukitan itu dan berusaha mendakinya. Terjadilah keajaiban yang merupakan karamah bantuan Tuhan di malam itu. Secara lahiriyah, meskipun kapal-kapal tersebut dapat ‘dipaksa’ berjalan di darat dengan menggunakan balok-balok kayu raksasa tapi tetap saja untuk mendaki bukit untuk membawa 70 kapat layar berukuran besar dalam tempo beberapa jam adalah hal yang mustahil. Apa yang sebenarnya terjadi? Kapal-kapal itu bukanlah berjalan di darat tetapi seakan melayang mendaki dan menyusuri perbukitan sejauh 16 km sampai di Golden Horn sehingga operasi pendaratan 5.000 pasukan itu selesai dalam waktu singkat. Dari sanalah mereka menyerbu Konstantinopet. Paginya, pada hari Selasa 29 Mei 1453 Konstantinopel takhluk ke tangan tentara Islam di bawah pimpinan Sultan Muhammad Al Fateh.

Telah diceritakan bahwa ketika Sultan Muhammad At Fateh memasuki Konstantinopet, para prajuritnya menemukan makam sahabat Rasulullah SAW yaitu Abu Ayyub Al Anshari ra. Di makam tersebut mereka melihat sebagian kaki Abu Ayyub tersembul keluar dari tanah. Kaki tersebut putih bersih, sama sekali tidak terlihat rusak walaupun beliau telah wafat selama 600 tahun. Inilah karamah para sahabat Nabi. Sultan panglimanya bergiliran mencium kaki tersebut. Giliran Sultan yang terakhir. Ketika Sultan Muhammad Al Fateh akan mencium kaki Sahabat Rasulullah itu, tiba-tiba kaki tersebut masuk ke dalam tanah. Telah diceritakan pula bahwa pada sore hari setelah penaklukan bersejarah itu Syeikh Syamsuddin Al Wali bermimpi bertemu dengan Abu Ayyub Al Anshari. Beliau (Abu Ayyub) menyampaikan ucapan selamat pada Sultan Muhammad Al Fateh karena berhasil menaklukkan Konstantinopel dan menyatakan bahwa beliaulah yang sepatutnya mencium kaki Sultan Muhammad Al Fateh sebagai orang yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.

Pada hari Jum’at pertama di Konstantinopel, ketika diadakan shalat Jum’at untuk pertama kalinya, terjadi kebingungan dalam menentukan siapa yang menjadi imam. Sultan pun dengan lantang meminta seluruh tentaranya berdiri dan mengajukan pertanyaan: “Siapa di antara kalian yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggalkan shalat fardhu silakan duduk!” Tidak ada seorang pun yang duduk. Ini berarti seluruh tentara Sultan sejak usia baligh tidak pernah meninggalkan shalat fardhu. Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga saat ini pernah meninggatkan shalat sunat rawatib silakan duduk!” Sebagian tentaranya masih tegak berdiri dan sebagian lagi duduk. Jadi sebagian tentara sultan sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat sunat rawatib. Kemudian Sultan berkata lagi, “Siapa yang sejak baligh hingga hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud silakan duduk!” Kali ini seluruh tentara duduk. Yang tinggal berdiri hanya Sultan sendiri. Ternyata sejak usia baligh Sultan belum pernah meninggalkan shalat tahajud sehingga beliaulah yang paling pantas menjadi imam shalat Jum’at. Memang benarlah kata Rasulullah SAW, “Sebaik-baik pemimpin, sebaik-baik tentara dan sebaik-baik rakyat.”

sumber rujukan..link

Friday, April 24, 2009

Fatimah...


Fatimah - Pendakwah yang menundukkan Umar



Umar al-Khattab mencapai pedang, mengikatnya di pinggang dan keluar dari rumah. Dendam dan sakit hatinya membuak-buak. Mendengar cerita orang ramai bahawa agama yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. (Muhammad Abdullah) semakin mendapat sambutan, marahnya menggunung. Jika mendapat peluang, Umar memang tidak akan melepaskan Muhammad. Di pertengahan jalan, Umar ditegur oleh seorang lelaki Bani Zuhrah. “Aku hendak pergi membunuh Muhammad!” kata Umar dengan wajah garang. “Aku hendak beritahu satu berita yang mengejutkan. Adikmu, Fatimah dan suaminya, Said bin Zaid, sudah memeluk Islam,” kata lelaki itu. Umar terkejut besar mendengar berita itu.


Dia malu, sedih dan marah sekali gus. Tanpa bersuara sepatah pun, dia meluru ke rumah Fatimah. Fatimah dan suaminya kebetulan sedang belajar mengaji al-Quran bersama seorang lagi sahabat mereka, Khabbab al-Arati. Dia mengetuk pintu dengan keras sehingga menimbulkan kebimbangan kepada seisi rumah. “Aku Umar. Buka pintu!!” Khabbab orang pertama yang lari menyembunyikan diri. Fatimah dan Said pucat. Mereka sedia maklum, Umar adalah seteru Islam paling hebat ketika itu.
Umar sanggup melakukan apa sahaja untuk menghukum orang yang mengkhianati kepercayaan nenek moyang mereka. Bagaimanapun Fatimah memberanikan diri membuka pintu. Umar menerpa dengan muka garang. “Aku mendengar kamu membaca sesuatu.” “Apa yang kamu dengar? Kami tidak membaca apa-apa!” kata Fatimah. Dia sudah menyembunyikan mushaf yang mengandungi tulisan-tulisan ayat al-Quran. Tetapi dia bimbang jika abangnya itu berjaya merampas mushaf itu. “Aku dengar apa yang kamu baca.


Aku tahu kamu sudah menganut agama Muhammad,” herdik Umar. Dia lantas mencekak leher Said dan mahu memukulnya. Fatimah cuba mempertahankan suaminya. Pukulan Umar tidak mengena Said, sebaliknya tersasar ke arah Fatimah sehingga terkoyak kulit dahinya. “Ya, kami sudah memeluk Islam. Kami percaya Allah dan Rasul-Nya. Apa yang kamu nak buat, buatlah!!” jerit Fatimah. Melihat darah bercucuran di dahi Fatimah, Umar disentap rasa kesal. Dia kasihan kepada adiknya sendiri. Nadanya berubah menjadi lembut tiba-tiba, “Berikan aku mushaf yang kamu baca. Aku janji tak akan buat apa-apa. Aku hanya hendak tahu apa yang dibawa oleh Muhammad itu.” Fatimah teragak-agak tetapi Umar cuba meyakinkan, “Jangan takut, aku bersumpah dengan Tuhan Muhammad.


Aku akan kembalikan mushaf itu selepas membacanya.” Fatimah terkesan akan kejujuran Umar. Umar abangnya dan dia kenal akan sikap abangnya sendiri. Jauh di sudut hati, dia tahu Umar akan mengotakan janjinya. Fatimah menjawab, “Saudaraku Umar, kau masih najis kerana syirikmu. Al-Quran itu tidak boleh disentuh melainkan oleh orang yang suci.” Fatimah menyuruh Umar mandi. Selepas itu, barulah mushaf itu diserahkan kepadanya. Umar menerimanya dengan penuh minat, lantas membaca ayat dari Surah Taha. Selepas menghabiskan bacaannya, spontan terkeluar dari bibir Umar, “Alangkah indahnya ayat ini!” Khabbab yang masih menyembunyikan diri dalam kediaman Fatimah keluar ketika mendengar pengakuan Umar.


“Umar, demi Allah, aku pernah mendengar Muhammad berdoa, “Ya Allah, bantulah Islam dengan Abul Hakam Hisyam atau Umar al-Khattab.” Cepatlah Umar, segera dapatkan Muhammad!” Umar mendesak Khabbab membawanya bertemu Muhammad. Fatimah mendengar dengan hati penuh syukur. Dia tidak sangka abangnya yang keras hati itu akan terbuka hati terhadap Islam. Umar lalu beredar ke sebuah rumah berdekatan Bukit Saffa, tempat Muhammad mengajar agama kepada rakan-rakannya. Seorang sahabat dalam kediaman itu mengintai di lubang pintu ketika mendengar ketukan. Dia sangat terperanjat apabila melihat Umar berdiri di depan pintu dengan sebilah pedang.
Sahabat itu segera memberitahu Muhammad, tetapi bapa saudara Muhammad, Hamzah Abdul Mutalib menjawab berani, “Wahai Rasulullah, biarkan Umar masuk. Kalau dia mahukan yang baik, kita berikan yang baik. Kalau niatnya jahat, kami akan membunuhnya dengan pedangnya sendiri.” Muhammad kelihatan sangat tenang. Dalam hati baginda, terdetik doa yang pernah dipohonnya dulu. Kini Umar datang sendiri tanpa perlu sesiapapun memujuknya. Dia menyuruh orang membuka pintu dan Umar dipelawa masuk. Sebaik-baik saja lelaki itu masuk, Muhammad bangun menyambutnya lantas mereka berlalu ke sebuah bilik.
Baginda melepaskan kain serbannya ke tubuh Umar dan merentapnya dengan kuat. “Apa yang membawa kamu ke sini? Demi Allah, aku takut kamu tak akan serik sehinggalah Allah menurunkan bencana ke atasmu!”“Wahai Rasulullah, aku datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,” Umar membalas. Muhammad terus bertakbir sebaik-baik sahaja mendengar pengakuan itu. Doa baginda akhirnya termakbul. Seluruh masyarakat Islam yang masih kecil bilangannya ketika itu, bersyukur dan sangat mengalu-alukan kedatangan Umar ke dalam Islam.
Pengislaman Umar bermakna Islam yang baru mendapat tempat, akan bertambah kukuh dan gagah. Seluruh masyarakat Islam mengenangi Fatimah sebagai orang yang bertanggungjawab membawa nur Islam dalam diri Umar. Dia terus diingati sebagai srikandi yang cekal, pendakwah yang berani, yang berjaya menundukkan kedegilan, keegoan dan hati batu Umar al-Khattab.

Saturday, March 7, 2009

WAHTU TERAKHIR....


Diriwayatkan bahawa surah Al-Maaidah ayat 3 diturunkan sesudah waktu Asar iaitu pada hari Jumaat di Padang Arafah pada musim haji penghabisan (Wada') .Pada masa itu Rasulullah S.A.W. berada di Padang Arafah di atas unta. Ketika ayat ini diturunkan Rasulullah tidak begitu jelas penerimaan nya, untuk mengingati isi dan makna yang terkandung di dalam ayat tersebut, Baginda bersandar pada unta beliau sambil unta tersebut duduk perlahan-lahan.



Setelah itu turun malaikat Jibrail A.S dan berkata:"Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah aku sempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. dan demikian juga apa yang terlarang olehNya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."



Sebaik sahaja malaikat Jibrail A.S pergi maka Rasulullah S.A.W pun berangkat ke Mekah dan terus ke Madinah. Setelah Rasulullah S.A.W mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah pun menceritakan apa yang telah di beritahu oleh malaikat Jibrail A.S. Apabila para sahabat mendengar hal demikian maka mereka pun gembira sambil berkata:"Agama kita telah sempurna! agama kita telah sempurna!"



Apabila Abu Bakar mendengar keterangan Rasulullah S.A.W. itu, dia tidak dapat menahan kesedihannya maka dia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis. Abu Bakar menangis dari pagi hingga ke malam.



Kisah tentang Abu Bakar r.a menangis telah sampai kepada sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar r.a dan mereka berkata:"Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga sebegini sekali keadaan mu? Sepatutnya kamu berasa gembira sebab agama kita telah sempurna."



Mendengar pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar r.a pun berkata:" Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesuatu perkara itu telah sempurna maka akan kelihatan lah kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ianya menunjukkan perpisahan kita dengan Rasulullah S.A.W. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri Nabi menjadi janda."



Setelah mendengar penjelasan dari Abu Bakar r.a maka sedarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar r.a, lalu mereka menangis. Tangisan mereka telah di dengar oleh para shabat yang lain, maka mereka pun terus memberitahu Rasulullah S.A.W. tentang apa yang mereka lihat itu.



Salah seorang dari sahabat berkata:" Ya Rasulullah, kami baru balik dari rumah Abu Bakar r.a dan kami dapati ramai orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah beliau."



Apabila Rasulullah mendengar keterangan dari sahabat itu, maka berubahlah muka Rasulullah dan dengan segera beliau bergegas ke rumah Abu Bakar r.a. Sebaik sahaja Rasulullah sampai di rumah Abu Bakar r.a maka Rasulullah S.A.W melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya. "Wahai sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?" Kemudian Ali r.a berkata:" Ya Rasulullah S.A.W., Abu Bakar mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahawa wafat mu telah dekat. Adakah ini benar, ya Rasulullah?"



Lalu Rasulullah S.A.W. berkata:" Semua yang dikata oleh Abu Bakar r.a adalah benar dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat." Sebaik sahaja Abu Bakar r.a mendengar pengakuan Rasulullah S.A.W maka dia menangis sekuat tenaganya sehingga dia jatuh pengsan sementara Ali r.a pula mengeletar seluruh tubuhnya. Dan para sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu.



Kemudian Rasulullah S.A.W. bersalam dengan para sahabat satu demi satu dan berwasiat kepada mereka. [Kisah Rasulullah S.A.W hidup selepas turunnya ayat terakhir itu ada yang menyatakan 81 hari, 50 hari, 35 hari dan ada juga yang mengatakan 21 hari.] Pada saat sudah dekat ajal Rasulullah S.A.W., beliau menyuruh Bilah bin Rabah azan untuk mengerjakan solat, lalu berkumpullah para Muhajirin dan Ansar di masjid Rasulullah S.A.W. kemudian Rasulullah menunaikan solat 2 rakaat bersama semua yang hadir. Setelah selesai mengerjakan solat beliau bangun dan naik ke atas mimbar dan berkata: "Alhamdulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang Nabi yang diutus dan mengajak orang kepada jalan Allah dengan izin Nya, dan saya ini adalah sebagai saudara kandung kamu, yang kasih sayang pada kamu semua seperti seorang ayah. Oleh itu kalau sesiapa mempunyai hak untuk dituntut, maka hendaklah dia bangun dan memberitahu saya sebelum saya dituntut di hari kiamat."



Rasulullah berkata sebanyak tiga kali kemudian bangun seorang lelaki yang bernama 'Ukasyah Bin Muhshan' dan berkata:" Demi ayah dan ibuku Ya Rasulullah S.A.W., kalau anda mengumumkan kepada kami berkali- kali sudah tentu saya tidak mahu mengemukakan hal ini." Lalu 'Ukasyah berkata lagi: "Sesungguhnya dalam perang Badar, saya bersamamu Ya Rasulullah, pada masa itu saya mengikuti unta anda dari belakang, setelah dekat saya pun turun menghampiri anda dengan tujuan supaya dapat mencium peha anda, tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda supaya berjalan cepat, yang mana pada masa itu anda terpukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu sama ada anda sengaja atau cuma hendak memukul unta tersebut."



Rasulullah S.A.W. berkata:" Wahai Ukasyah, Rasulullah sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah S.A.W. berkata kepada Bilal r.a.: "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkat aku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di atas kepala dengan berkata:"Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk di balas (qishash)."



Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah r.a menyahut dengan berkata:" Siapakah di pintu?" Lalu Bilal berkata:"Saya Bilal, saya diperintahkan oleh Rasulullah S.A.W. untuk mengambil tongkatnya."



Kemudian Fatimah berkata:" Wahai Bilal, untuk apa ayahku meminta tongkatnya?" Bilal berkata:"Wahai Fatimah, Rasulullah S.A.W. telah menyediakan dirinya untuk di qishash." Fatimah bertanya lagi:"Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk mengqishash Rasulullah S.A.W.?"



Bilal tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a., sebaik sahaja Fatimah r.a memberikan tongkat tersebut maka Bilal pun membawa nya kepada Rasulullah S.A.W. Setelah Rasulullah S.A.W. menerima tongkat tersebut dari Bilal maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah'. Melihat hal yang demikian maka Abu Bakar r.a. dan Umar r.a tampil ke hadapan sambil berkata:"Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda Rasulullah S.A.W., tetapi kamu qishashlah kami berdua."



Apabila Rasulullah S.A.W. mendengar kata-kata Abu Bakar dan Umar maka dengan segera baginda berkata:"Wahai Abu Bakar dan Umar, duduk lah kamu sesungguhnya Allah S.W.T. telah menetapkan tempat untuk kamu berdua." Kemudian Ali r.a. bangun lalu berkata:"Wahai 'Ukasyah! aku adalah orang yang sentiasa berada disamping Rasulullah S.A.W. oleh itu kamu pukul lah aku dan janganlah kamu mengqishash Rasulullah S.A.W." Lalu Rasulullah S.A.W. berkata:" Wahai Ali, duduklah kamu, sesungguhnya Allah S.W.T. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hati mu."



Setelah itu Hasan dan Husin bangun dan berkata:"Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahawa kami ini adalah cucu Rasulullah S.A.W., kalau kamu mengqishash kami sama dengan kamu mengqishash Rasulullah S.A.W." Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah S.A.W. pun berkata: "Wahai buah hatiku, duduklah kamu berdua."



Rasulullah S.A.W. berkata:" Wahai 'Ukasyah, pukul lah saya kalau kamu hendak memukul." Kemudian 'Ukasyah berkata:" Ya Rasulullah S.A.W. anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah S.A.W. pun membuka baju, sebaik sahaja Rasulullah S.A.W. membuka baju maka menangislah semua yang hadir.



Sebaik sahaja 'Ukasyah melihat tubuh badan Rasulullah S.A.W. maka dia pun mencium beliau dan berkata: "Saya tebus anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah S.A.W. Siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya hendak menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah S.W.T. dengan badan saya dan Allah S.W.T menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu."



Kemudian Rasulullah S.A.W. berkata:"Dengarlah kamu sekelian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya." Kemudian semua para jemaah bersalaman atas kegembiraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah berkata:" Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah S.A.W. di dalam syurga."



Apabila ajal Rasulullah S.A.W. makin hampir maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah r.a dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah S.W.T. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah S.W.T. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.



Setelah itu kamu kapani aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kapanilah aku dengan kain Yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku diatas diatas balai tempat tidurku dalam rumah ku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar meninggalkan ku. Setelah itu baru kamu semua masuk beramai-ramai bersolat ke atasku."



Sebaik sahaja para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka menangis dengan nada yang keras dan berkata:" Ya Rasulullah S.A.W., anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penemuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti siapakah yang akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?"



Kemudian Rasulullah S.A.W. berkata:" Dengarlah para sahabatku aku tinggalkan kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua, dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah Al-Quran dan yang diam itu ialah Maut.



Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit diantara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada Al-Quran dan Hadisku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutlah dia dengan mengambil pengajaran dari mati."



Setelah Rasulullah S.A.W. berkata demikian, maka sakit Rasulullah S.A.W. bermula. Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari dan sering diziarahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah S.A.W. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin.



Pada hari isnin, sakit Rasulullah S.A.W. bertambah berat, setelah Bilal r.a. selesai azan subuh, maka Bilal r.a pun pergi ke rumah Rasulullah S.A.W. Sesampainya Bilal r.a di rumah Rasulullah S.A.W., maka Bilal r.a pun memberi salam:" Assalamualaikum ya Rasulullah." Lalu dijawab oleh Fatimah r.a: "Rasulullah S.A.W. masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal r.a mendengar penjelasan dari Fatimah r.a maka Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah r.a itu.



Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah S.A.W. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal r.a telah didengar oleh Rasulullah dan baginda berkata:"Masuklah wahai Bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimamkan solat Subuh berjemaah dengan mereka yang hadir."



Setelah mendengar kata-kata Rasulullah S.A.W. maka Bilal r.a. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangannya diatas kepala dengan berkata:" Aduh musibah!" Sebaik sahaja Bilal sampai di masjid maka Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah S.A.W. kata kan kepadanya.Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya apabila melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar r.a menangis sehingga jatuh pengsan.



Melihat peristiwa itu, maka riuh rendahlah di dalam masjid sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah apakah yang berlaku?" Maka Fatimah memberitahu:"Kekecohan kaum muslimin sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah memanggil Ali r.a dan Fadhl bin Abas, lalu Rasulullah S.A.W. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah S.A.W. sampai di masjid maka beliau pun bersolat Subuh bersama dengan para jemaah.



Setelah selesai solat Subuh maka Rasulullah S.A.W. pun berkata: "Wahai kaum muslimin, kamu semua sentiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah S.W.T., oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kepada Allah S.W.T. dan mengerjakan segala perintahNya.Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia. Setelah berkata demikian, maka Rasulullah S.A.W. pun pulang ke rumah beliau.



Kemudian Allah mewahyukan kepada malaikat Izrail:"Wahai Izrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa dan apabila kamu hendak mencabut rohnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali.Apabila kamu pergi kerumahnya maka minta izinlah terlebih dahulu, kalau di izinkan kamu masuk maka masuklah kamu ke rumahnya dan kalau dia tidak mengizinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali kepada ku.



Sebaik sahaja malaikat Izrail mendapat perintah dari Allah S.W.T. maka malaikat Izrail pun dengan segera menyerupai seorang Arab Badwi. Setelah malaikat Izrail sampai dihadapan rumah Rasulullah S.A.W. maka dia pun memberi salam:"Assalamu alaikum yaa ahla baitin nunuwwati wa ma danir risaalati aadkhulu?" (Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu sekelian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risalah, bolehkah saya masuk?")



Apabila Fatimah mendengar orang memberi salam maka dia pun berkata:"Wahai hamba Allah, Rasulullah S.A.W. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat." Kamudian malaikat Izrail berkata lagi seperti permulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah S.A.W. dan Rasulullah S.A.W. bertanya kepada Fatimah r.a:" Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu."



Maka Fatimah r.a berkata:"Ya Rasulullah, ada seorang Arab Badwi memanggilmu dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga merasa mengigil badan saya."



Kemudian Rasulullah S.A.W. berkata:"Wahai Fatimah, tahu kah kamu siapakah orang itu?" Jawab Fatimah:"Tidak ayah."



Dia adalah malaikat Izrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan- perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan penghuni kubur."



Fatimah r.a. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahnya telah hampir, dia menangis sepuas-puasnya.



Apabila Rasulullah S.A.W. mendengar tangisan Fatimah maka beliau pun berkata:" Janganlah engkau menangis wahai Fatimah, engkaulah orang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku."



Kemudian Rasulullah S.A.W. menjemput malaikat Izrail masuk. Maka malaikat Izrail pun masuk dengan mengucap: "Assalamualaikum ya Rasulullah."



Lalu Rasulullah menjawab:"Wa alaikas saalamu, wahai Izrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?"



Izrail berkata:"Kedatangan saya adalah untuk menziarahi mu dan mengambil roh mu, itupun kalau kamu izinkan, kalau tidak izinkan maka aku akan kembali."



Rasulullah berkata:"Wahai Izrail, dimanakah kamu tinggalkan Jibrail?" Izrail berkata:"Saya tinggalkan Jibrail A.S. di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia."



Tidak berapa saat kemudian, Jibrail A.S. pun turun dan duduk dekat kepala Rasulullah S.A.W. Apabila Rasulullah S.A.W. melihat kedatangan Jibrail A.S. maka Rasulullah S.A.W. pun berkata:"Wahai Jibrail, tahukah kamu bahawa ajalku sudah dekat?"



Jibrail berkata:" Ya, aku memang tahu."



Rasulullah S.A.W. bertanya lagi:"Wahai Jibrail beritahu kepadaku kemuliaan yang mengembirakan aku disisi Allah S.W.T."



Jibrail A.S. berkata:"Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi mananti roh mu di langit. Kesemua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu."



Rasulullah S.A.W. berkata:"Sekarang kamu katakan pula tentang umatku pada hari Kiamat nanti."



Jibrail A.S berkata:" Allah S.W.T. telah berfirman: "Sesungguhnya Aku telah melarang semua nabi masuk ke syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umat mu memasuki syurga."



Rasulullah S.A.W. berkata:"Wahai Izrail, dekat lah kamu kepadaku." Setelah itu malaikat Izrail pun memulakan tugasnya apabila roh itu sampai pada pusat, maka Rasulullah S.A.W. pun berkata:"Wahai Jibrail alangkah dasyatnya rasa mati."



Jibrail mengalihkan pandangan dari Rasulullah apabila mendengar kata -kata beliau.



Melihat telatah Jibrail itu, maka Rasulullah pun berkata: "Wahai Jibrail, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?"



Jibrail A.S berkata:"Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajah mu di kala kamu dalam sakaratul maut?"



Anas bin Malik berkata:"Apabila roh Rasulullah S.A.W. telah sampai di dada beliau bersabda:"Aku wasiatkan kepada kamu semua menjaga solat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atas atasmu."



Ali r.a. berkata:"Sesungguhnya Rasulullah S.A.W.ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali dan saya meletakkan telinga saya dekat Rasulullah S.A.W. dia berkata:



"Umatku, Umatku."

Cahaya Muka Rasullullah


Telah diriwayatkan daripada Siti Aishah bahawa ia telah berkata : "Sedang aku menjahit baju pada waktu sahur (sebelum subuh) maka jatuhlah jarum daripada tanganku, tiba-tiba kebetulan lampu pun padam, lalu masuklah Rasulullah s.a.w. Ketika itu juga aku dapat mengutip jarum itu kerana cahaya wajahnya, lalu aku berkata, " Hai Rasulullah alangkah bercahayanya wajahmu!
Seterusnya aku bertanya: " Siapakah yang tidak akan melihatmu pada hari kiamat?" Jawab Rasulullah : "Orang yang bakhil." Aku bertanya lagi : "Siapakah orang yang bakhil itu?" Jawab baginda : "Orang yang ketika disebut namaku di depannya, dia tidak mengucap selawat ke atasku." BERDOA Berkata Al-Barra' r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda: "Segala doa itu terdinding (terhalang untuk dikabulkan)! daripada langit sehingga orang yang berdoa itu mengucapkan selawat untuk Muhammad dan keluarga Muhammad."
KIJANG DAN ANAKNYA
Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab 'Al-Hilyah' bahawa seorang lelaki lalu di sisi Nabi s.a.w. dengan membawa seekor kijang yang ditangkapnya, lalu Allah Taala (Yang berkuasa menjadikan semua benda-benda bercakap) telah menjadikan kijang itu bercakap kepada Nabi s.a.w. : "Hai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku ada mempunyai beberapa ekor anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan mereka sedang kelaparan, oleh itu haraplah perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku itu dan sesudah itu aku akan balik ke mari.
" Bersabda Rasulullah s.a.w. " Bagaimana kalau engkau tak balik ke mari semula?" Jawab kijang itu: "Kalau aku tidak balik ke mari, nanti Allah Taala ! akan melaknatku sebagaimana Ia melaknatkan orang yang tidak mengucapkan selawat bagi engkau apabila disebut nama engkau disisinya." Lalu Nabi s.a.w. pun bersabda kepada orang itu : "Lepaskan kijang itu buat sementara waktu dan aku jadi penjaminnya." Kijang itu pun dilepaskan dan kemudian ia kembali ke situ semula.
Maka turunlah malaikat Jibril a.s. dan berkata : "Hai Muhammad, Allah Taala mengucapkan salam kepada engkau dan Ia (Allah) berfirman: " Demi KemuliaanKu dan KehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasihkan umat Muhammad daripada kijang itu kasihkan anak- anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau." Alhamdulillah..marilah memperbanyakkan bersyukur dan berselawat kerana kita tergolong dalam umat Muhammad.
INSYA ALLAH

By Day

tunggu

Kata-kata

Jauhkan angan-angan mu dari sesuati yang dimiliki oleh orang lain nescaya hidup kamu bercukup..

Janganlah engkau cari-cari alasan dalam membuat salah. Alasan yang diberi lebih teruk dari salah...

Kamu mestilah memahami apa yang diucapkan...

Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada disisimu ketika kamu memerlukan sokongan walaupun saat itu mereka sepatutnya berada di tempat lain yang lebih menyeronokkan.

kita berbicara

Tetamuku

salam sahabat

Birthday Reminder

January
1 my sis
12 Abg Jib
19 aini mrsm
26 ieyrah mrsm
31 muniey mrsm

February
1 Wana mrsm
2 hamdal mrsm
4 Yus mrsm
18 kak lah mrsm
22 Ummi mrsm
26 Afiqah niece

Mac
3 Izzati mrsm
8 mimi Cb
22 kori mrsm
23 Ilah mrsm
30 Ayahanda

April
6 saba pj
9 baby irfan, ain upm, syikin chalok
15 Fik mrsm
17 me
27 jaa cb


Mei
4 Aqilah niece
5 Farihan mrsm
8 Rahim mrsm
10 Wani mrsm

17 Abg Yen
18 Ctah Upm
21 Zahari mrsm
22 Faqih mrsm

24 Suriani UPm... Ana Sg Tong
26 hana sf


Jun
1 kak ieda upm
2 Dayah cb
5 Sykin rahim upm
15 nurul cb...... sue kmm
16 Dia mrsm
17 tha kmm
29 sofwah kmm

Julai
1 Kak nah mrsm
4 Amir kush mrsm

5 kak yat upm
21 Al-Waleeed mrsm

22 Nabilah niece
23 Jamil mrsm
25 Adli mrsm
28 Fiza chalok

Ogos
1 Nadiy chalok
8 Din mrsm
13 Abg Farid Upm
18 Rodzy mrsm
22 Dayana mrsm
23 Nurin mrsm
26 Mah cb

31 huriyyah kmm

September
4 mat _hniff chalok
6 madihah mrsm
9 kakanda, amir hazwan mrsm
17 Aliff Pres
26 bonda
28 eCah mrsm


Oktober
6 iekiey mrsm
9 yuniey mrsm
14 Intan mrsm

23 Abg long Ukm
29 Apez mrsm, rosni mrsm

31 Kak Edah

November
2 Sarina Mrsm
10 P-rah mrsm, nida mrsm

Disember
16 Easy mrsm
17 Mat Syah mrsm

21 Safwan Upm
25 Nas Azrol mrsm
26 Ayu Upm

 

(أولياء) Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez